Posted by : 91oskm2013 Jumat, 23 Agustus 2013

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti "(perbuatan) bekerja sama (dengan musuh, dsb)". Kolaborasi sama artinya dengan bekerja sama atau dalam bahasa inggrisnya to cooperate. Sebuah peradaban dalam membangun sesuatu, terutama sesuatu yang besar pasti dilakukan dengan bekerja sama. Menurut saya, baik sedari di SMP, SMA, sampai kuliah, kita sebagai pelajar pasti diajarkan untuk bekerja sama. Karena bekerja sama atau kalau dulu sering juga di bilang gotong royong, merupakan ciri khas bangsa Indonesia. Dengan bekerja sama dan ber gotong royong, sekelompok orang dapat mencapai sesuatu yang besar. Para pejuang Indonesia tentunya tidak sendiri dalam memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Mereka berjuang bersama-sama dan dengan saling berpegangan tangan mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan. Sama seperti halnya pada saat Raja Leonidas membawa 299 prajuritnya untuk melawan tentara Persia. Dia tidak bisa melakukannya sendiri. Maka dari itu kolaborasi bukan hanya sifat dari bangsa Indonesia saja. Tapi memang berkolaborasi dan bekerja sama itu sudah merupakan ciri khas peradaban manusia.

Kolaborasi atau collaboration adalah upaya atau usaha untuk mencapai suatu tujuan. It is a purposive relationship. Makanya sebuah kolaborasi tidak hanya di lakukan dengan dua pihak yang berteman saja, tetapi dua pihak yang berlawanan namun memiliki satu tujuan juga bisa berkolaborasi. Ada beberapa faktor penghambar kolaborasi, antara lain : Keahlian, Waktu, Biaya, Kompetisi, dan Kearifan Konfensional. Pondy (dalam Luthans, 1983 : 382-383) menyatakan bahwa ada tiga pendekatan untuk mengelola konflik keorganisasian, yaitu :

  1. Bargaining Approach : Pengelolaan konflik model ini merujuk pada kelompok
    kepentingan yang berkompetisi karena keterbatasan sumber
    daya. Strategi untuk mengatasi konflik adalah dengan membagi
    secara merata kesempatan memperoleh sumberdaya atau
    mengurangi keinginan untuk mendapatkan sumberdaya.
  2. Bureaucratic Approach : dimana model ini merujuk pada hubungan kewenangan secara vertikal dalam suatu hierarki. Konflik akan terjadi apabila atasan ingin memiliki kekuasaan terhadap bawahan, namun bawahannya menolak. Untuk memecahkan masalah ini, perlu diadakannya perubahan terhadap aturan-aturan birokratis yang bersifa impersonal untuk pengendalian personal.
  3. Systems Approach : Apabila kedua pendekatan diatas sudah gagal dalam mengatasi suatu konflik, maka pendekatan ketiga ini lah yang di gunakan. Pendekatan ini merujuk pada hubungan horisontal dan kesamping antara fungsi-fungsi yang berkesinambungan. Yang menjadi salah satu strateginya adalah dengan cara mengurangi perbedaan terhadap tujuan dengan mengubah insentif, atau melakukan seleksi yang sesuai. Juga dengan mengurangi ketergantungan fungsional dengan mengurang ketergantungan pada penggunaan sumber daya bersama-sama.
Ditulis oleh
Errandyno Rumengan
16313006

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments