Posted by : Pengguna android Jumat, 23 Agustus 2013

Kolaborasi adalah sebuah bentuk kerjasama, interaksi atau kompromi elemen-elemen baik individu, lembaga,ataupun pihak-pihak terkait yang mendapatkan dampak atau manfaatnya secara langsung mauoun tidak langsung. Kolaborasi dapat terbentuk akibat persamaan persepsi, tujuan ataupun kasih sayang yang berbasis kemasyarakatan. Tujuan umum dari dilakukannya kolabarasi ini adalah untuk

memecahkan masalah, menciptakan sesuatu dan menemukan sesuatu di dalam sejumlah hambatan.Adapun hambatan-hambatan yang dirasakan dalam berkolaborasi itu sendiri antara lain, keahlian, waktu,biaya kompetisi dan kearifan konvensional.

Dalam mencapai sebuah kolaborasi yang efektif, dibutuhkan team building. Team building itu sendiri adalah kemampuan atau ide dasar seorang individu yang mampu berkerjasama dalam suatu kelompok untuk meraih tujuan bersama.

Setiap perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia maupun di seluruh dunia akan selalu terjadi perubahan yang diawali dengan pergerakan, namun pergerakan tidak akan bermakna atau bersifat masif tanpa adanya kolaborasi. Sehinga dengan diberikan sejarah mengenai pentingnya kolaborasi dalam setiap pergerakan, peserta akan terinisisasi dan tergerak untuk melakukan pergerakan.

Dalam setiap pergerakan-pergerakan tersebut pastilah timbul gesekan-gesekan akibat perbedaan persepsi atau pandangan yang disebut denga konflik. Oleh sebab itu, untuk meredakan setiap konflik yang ada, dibutuhkan sebuah manajemen yang mampu meredakan konflik-konflik tersebut, atau disebut dengan manajemen konflik.
Manajemen konflik adalah upaya untuk mengatur pergesekan yang terjadi antar anggota kelompok agar pergesekan tersebut tidak berdampak merugikan bagi anggota yang lain atau kelompok secara keseluruhan dan dapat diselesaikan.Dengan memberikan pemahaman mengenai manajemen konflik, diharapkan mereka dapat mencegah terjadinya konflik dalam kelompok atau meminimalisasi dampak buruk jika terjadi konflik pada kelompoknya.

Pondy (dalam Luthans, 1983 : 382-383) mengemukakan tiga pendekatan konseptual utama untuk mengelola konflik keorganisasian yakni  bargaining approach, bureaucratic approach dan systems approach. Bargaining approach merujuk pada  kelompok kepentingan yang berkompetisi karena keterbatasan sumber daya. Strategi untuk mengatasi konflik adalah dengan membagi secara merata kesempatan memperoleh sumberdaya atau mengurangi keinginan untuk mendapatkan sumberdaya.Selanjutnya adalah bureaucratic approach. Pengelolaan konflik model ini merujuk pada hubungan kewenangan secara vertikal di dalam struktur hierarkhi. Konflik akan terjadi apabila pihak atasan ingin melakukan pengendalian ke bawah, tetapi mereka menolak untuk dikendalikan. Strategi untuk memecahkan konflik adalah mengganti aturan-aturan birokratis yang bersifat impersonal untuk pengendalian personal. Dan yang terakhir adalah systems approach. Apabila pendekatan tawar- menawar dan pendekatan birokratis gagal menyelesaikan konflik, maka pendekatan sistem berisi koordinasi berbagai masalah. Pendekatan ini merujuk pada hubungan horisontal dan kesamping diantara fungsi-fungsi. 

Ada dua strategi yang dapat digunakan untuk mengurangi konflik yakni :

1) mengurangi perbedaan terhadap tujuan dengan mengubah insentif, atau melakukan seleksi yang sesuai;

2) mengurangi saling ketergantungan fungsional dengan mengurangi ketergantungan pada penggunaan sumberdaya bersama-sama, dengan mengurangi tekanan untuk
konsensus.


Sekian. Terima kasih,





I Kadek Yoga Dwi Putra
16313186


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments