Posted by : Pengguna android Kamis, 22 Agustus 2013

Mahasiswa adalah tolak ukur suatu bangsa. Jika ingin tahu bagaimana Indonesia lima tahun mendatang, lihatlah pola pikir mahasiswa hari ini....
            Ketergantungan suatu bangsa akan hadirnya sosok generasi baru yang produktif mau tidak mau memaksa mahasiswa memiliki kekuatan baru. Salah satu yang terpenting adalah kemampuan untuk berpikir dan memecahkan masalah. Kemampuan untuk berpikir logis dan terstruktur. Tidak usah berbelit-belit, karena pemikiran sederhana yang memikatlah yang justru Indonesia butuhkan dewasa ini.
            Untuk menjawab tantangan tersebut, ITB mengenalkan pola berpikir K3 sebagai ajang latihan untuk mengasah kemampuan problem solving mahasiswanya. K3 sendiri adalah singkatan dari berpikir Kritis, Kreatif, dan Konstruktif. Yang dimaksud dengan pola pikir kritis adalah kemampuan untuk peka terhadap suatu masalah. Bagaimana mahasiswa diharapkan tidak hanya terpaku pada satu sebab, tetapi lebih jauh dapat mencari sumber masalah dari berbagai sudut pandang yang mungkin.
            Pola pikir kreatif dimaksudkan sebagai kemampuan untuk mencari, menggali, dan menemukan sesuatu yang baru. Aspek orisinalitas dan realistis menjadi acuan utama dalam pola berpikir ini. Kreativitas adalah sesuatu yang penting, meski terkadang sulit untuk dilakukan. Mahasiswa sendiri sangat dituntut untuk berpikir kreatif. Satu hal yang harus selalu diingat, bahwa kreativitas tidak lahir dengan sendirinya, tetapi harus dibangun dan dipupuk agar tumbuh subur.
            Ada kalanya suatu ide tercetus, tetapi justru rumit dan kurang bermanfaat. Untuk itulah hadir pola berpikir yang ketiga. Pola berpikir ini adalah pola pikir konstruktif, dimana suatu ide yang muncul haruslah membangun. Sebuah ide atau gagasan baru dapat dikatakan membangun jika realistis untuk dilakukan dan terbukti bermanfaat bagi banyak pihak.
Dengan pola pikir K3, kita akan lebih mudah mengotak-kotakkan sumber masalah sehingga lebih mudah dalam membuat solusi. Adapun sumber masalah dapat dikelompokkan berdasarkan metode PESTEL, yakni masalah yang berkaitan dengan Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi, Environment, dan Legal. Tentu dari berbagai bidang tersebut, pendefinisian sumber masalah akan mengerucut dalam satu bidang yang paling mungkin/logis. Maka, setelah penyebab masalah ditentukan, langkah terakhir dan terpenting adalah mencari solusinya.
Tentu saja kehadiran tiga pola pikir ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Ketiganya saling kait, saling memengaruhi, dan jika telah berhasil dilakukan, akan menghasilkan sebuah pemikiran yang tidak hanya logis, tetapi juga baru, segar, menarik, dan bermanfaat bagi banyak orang.

-Ni Luh Putu Ananda Saraswati-

{ 1 komentar... read them below or add one }